PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) DIDUKUNG DENGAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN KELAS SECARA MANDIRI

On 2017-08-23 Posted by Dio  |  Dikunjungi (87)  |  Comments (2)

Mungkin bagi sebagian orang, kata Literasi masih awam didengar apalagi Gerakan Literasi Sekolah atau yang disingkat dengan (GLS). Pengertian Literasi sendiri dalam konteks pembelajaran merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara baik melalui berbagai aktivitas yaitu membaca, menulis maupun berbicara. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Program ini hadir untuk meningkatkan minat baca peserta didik yang berkaitan dengan kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis dan reflesktif. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu didalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Dengan dasar tersebut, SMP N 2 Purwokerto mengisi GLS disetiap pagi selama 15 menit sebelum pembelajaran dengan membaca Al Quran bagi muslim dan terdapat sesi keagamaan tersendiri bagi yang non-muslim bersama guru terkait. Peserta didik di SMP Negeri 2 Purwokerto juga antusias dengan program literasi yang dilakukan secara rutin tersebut. Hal tersebut didukung pula oleh program perpustakaan kelas yang dikelola secara mandiri oleh siswa. Perpustakaan kelas merupakan program GLS yang sudah berjalan hampir 2 tahun, dengan melibatkan siswa kelas secara mandiri sebagai penyumbang buku maupun untuk pengelolaannya. Menurut Bapak Imam Tobroni S.Pd selaku Ketua GLS di Spendha “Gerakan Literasi Sekolah di Spendha sudah baik dengan jadwal 15 menit sebelum pembelajaran mulai dibiasakan untuk membaca Alquran guna meningkatkan pengetahuan tentang keagamaan, kemudian untuk membaca buku non-pelajaran bisa dilakukan pada saat jam istirahat, jam kosong maupun jam Co-Kurikuler”. Pengelolaan perpustakaan kelas melibatkan para siswa setiap kelasnya untuk membentuk kepengurusan mulai dari ketua, bagian pelayanan, perawatan dan pengolahan, kemudian sebagai penanggung jawab diserahkan kepada wali kelas masing-masing. Bapak Imam berpendapat bahwa untuk kedepannya akan dibuat Pojok Baca ditempat yang sering digunakan siswa untuk berkumpul. Demi kelancaran program GLS tersebut juga diperlukan peran aktif dari berbagai pihak antara lain perpus sekolah, guru bahasa baik Indonesia maupun Inggris, wali kelas dan pengurus perpustakaan kelas.



KOMENTAR :


Tuliskan komentar anda :

Alamat E-mail

Komentar

 

kembali